Senin, 06 Mei 2013

Tsunami

PENDAHULUAN

Bumi adalah sebuah planet yang sangat kompleks serta memiliki kehidupan yang sangat beragam di dalamnya. Semua makhluk hidup baik hewan, tumbuhan maupun manusia hidup di lapisan litosfer (permukaan bumi) yang memiliki bentuk yang berbeda-beda, ada yang berupa dataran, perbukitan dan juga pegunungan. Setiap bentuk ini memiliki potensi dan kerawanan terhadap bencana yang berbeda. Namun semua potensi dan kerawanan terhadap bencana pada awalnya berasal dari satu proses yang disebut dengan teori tektonik lempeng. Teori ini menjelaskan bahwa lithosfer adalah suatu massa yang kaku dan bergerak di atas suatu lapisan astenosfer yang bersifat cair dan elastis. Karena adanya pergerakan tersebut maka dapat menyebabkan terjadinya tumbukan antar lempeng yang membentuk permukaan bumi.

Tumbukan antar lempeng ini akan menyebabkan terjadinya gempa bumi. Gempa bumi biasanya terjadi di daerah-daerah pertemuan tumbukan (subduktion zone). Di indonesia mulai dari daerah ujung pantai barat Sumatera sampai ke pantai selatan Flores, pantai selatan Timor, pantai barat laut Papua, utara pulau Seram, barat dan utara maluku serta timur dan utara Sulawesi.

Gempa bumi yang terjadi biasanya akan memicu terjadinya bencana yang lain seperti tsunami, gunung merapi dan longsor. Tsunami menjadi populer di telinga masyarakat Indonesia sejak kota Banda Aceh luluh lantak pada bulan Desember 2004. Tsunami yang pada saat itu datang secara tiba-tiba menelan ratusan korban jiwa. Tsunami semakin dikenal oleh masyarakat indonesia ketika gempa berkekuatan 8,9 SR mengguncang pesisir laut timur Jepang di kepulauan Honshu yang memicu gelombang setinggi empat hingga sepuluh meter pada tanggal 11 Maret 2011. Tsunami ini memporak-porandakan kota industri Jepang dan merusak instalasi nuklir di kota tersebut. Tsunami besar yang terjadi di Banda Aceh dan Jepang itu membuka kesadaran banyak orang sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang penyebab terjadinya tsunami.


PEMBAHASAN


1. Pengertian Tsunami
Tsunami berasal dari bahasa Jepang yaitu Tsu yang berarti pelabuhan dan nami yang berati gelombang. Tsunami adalah gelombang laut yang terjadi karena adanya gangguan impulsif pada laut. Gangguan impulsif tersebut terjadi akibat adanya perubahan bentuk dasar laut secara tiba-tiba dalam arah vertikal (Pond and Pickard, 1983) atau dalam arah horizontal (Tanioka and Satake, 1995). Perubahan tersebut disebabkan oleh tiga sumber utama, yaitu gempa tektonik, letusan gunung api, atau longsoran yang terjadi di dasar laut (Ward, 1982). Dari ketiga sumber tersebut, tsunami yang terjadi di Indonesia menurut Puspito dan Triyoso (1994) penyebab utamanya adalah gempa. (inatews-bmkg, 2010)

2. Penyebab Terjadinya Tsunami
Beberapa penyebab terjadinya tsunami adalah
a. Longsoran lempeng bawah laut (undersea landslides)
Gerakan yang besar pada permukaan bumi biasanya terjadi pada perbatasan lempeng tektonik. Celah retakan antara kedua lempeng tektonik ini disebut dengan sesar (fault). Contohnya di sekeliling tepian Samudera Pasifik yang biasa disebut dengan Lingkaran Api (Ring of Fire) lempeng samudera lebih padat menujam masuk ke bawah lempeng benua. Proses ini disebut dengan penujaman (subduction). Gempa subduksi sangat efektif membangkitan gelombang tsunami.
b. Gempa bumi bawah laut (undersea earthquake)
Gempa tektonik merupakan salah satu gempa yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng bumi. Jika gempa seperti ini terjadi di dasar laut, air di atas wilayah lempeng yang bergerak tersebut berpindah dari posisi ekuilibriumnya. Apabila wilayah yang luas pada dasar laut bergerak naik atau turun tsunami dapat terjadi.
Gempa bumi yang dapat menjadi pernyebab terjadinya tsunami adalah
• Gempa bumi yang terjadi di dasar laut.
• Pusat gempa kurang dari 30 km dari permukaan laut.
• Magnitudo gempa lebih besar dari 6,0 SR
• Jenis pensesaran gempa tergolong sesar vertikal (sesar naik atau turun).
c. Letusan gunung berapi
Letusan gunung berapi dapat menyebabkan terjadinya gempa vulkanik (gempa akibat letusan gunung berapi). Tsunami besar yang terjadi pada tahun 1883 adalah akibat meletusnya Gunung Krakatau yang berada di Selat Sunda. Meletusnya Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat pada tanggal 10-11 April 1815 juga memicu terjadinya tsunami yang melanda Jawa Timur dan Maluku. Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di wilayah Lingkaran Api (Ring of Fire) dunia tentu harus mewaspadai ancaman ini.
d. Tumbukan benda luar angkasa
Tumbukan benda luar angkasa seperti meteor merupakan gangguan terhadap air laut yang datang dari arah permukaan. Tsunami yang timbul umumnya terjadi sangat cepat dan jarang mempengaruhi wilayah pesisir laut yang jauh dari sumber gelombang. Apabila pergerakan lempeng dan tabrakan benda angkasa luar cukup dahsyat maka dapat menyebabkan terjadinya megatsunami. (Yakub Malik, 2006)

3. Karateristik Tsunami
Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan yang tinggi dan dapat melintasi samudera dengan sedikit energi berkurang. Waktu perambatan gelombang tsunami lebih lama dari waktu yang diperlukan oleh gelombang seismik untuk mencapai tempat yang sama. Periode tsunami cukup bervariasi mulai dari 2 menit hingga lebih 1 jam. Panjang gelombangnya sangat besar antara 100-200 km. Kecepatan tsunami bergantung pada kedalaman air. Di laut dalam dan terbuka, kecepatannya mencapai 800-1000 km/jam. Ketinggian tsunami di lautan dalam hanya mencapai 30-60 cm dengan panjang gelombang mencapai ratusan kilometer sehingga keberadaan mereka di laut dalam susah untuk dibedakan dengan gelombang biasa bahkan tidak dirasakan oleh kapal-kapal yang sedang berlabuh di tengah samudera.

Berbeda dengan gelombang biasa karena angin yang hanya bergerak di bagian permukaan atas, gelombang tsunami mengalami pergerakan diseluruh bagian partikel air mulai dari permukaan sampai bagian dalam samudera. Ketika tsunami memnasuki perairan yang lebih dangkal, ketinggian gelombangnya meningkat dan kecepatannya menurun drastis. Namun energinya masih sangat kuat untuk menghanyutkan semua benda yang dilaluinya. Arus tsunami dengan ketinggian 70 cm masih dapat menyeret dan menghanyutkan orang.
Gambar mekanisme terjadinya tsunami (inatews-bmkg, 2010)

Apabila lempeng samudera pada sesar bergerak naik (raising) terjadi air pasang di wilayah pantai sehingga wilayah tersebut akan mengalami banjir sebelum kemudian gelombang tsunami menerjang. Sedangkan apabila lempeng samudera pada sesar bergerak turun (sinking, kurang lebih separuh dari waktu gelombang tsunami akan sampai di pantai, air laut di pantai tersebut akan surut. Pantai yang landai surutnya air laut bisa mencapai 800 m. Bagi masyarakat yang tidak sadar tentu tetap akan tinggal di pesisir pantai bahkan kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk menangkap ikan yang bertebaran di pantai. (Yakub Malik, 2006)

4. Klasifikasi Tsunami
a. Tsunami atmosfer
Merupakan gelombang yang menyerupai tsunami yang ditimbulkan oleh tekanan atmosfer yang bergerak cepat di atas laut dangkal dengan kecepatan yang hampir sama kecepatan gelombang sehingga memungkinkan keduanya beriringan.
Hal ini akan menyebabkan air laut akan naik dan menggenangi daerah pesisir pantai.
b. Tsunami lokal
Merupakan tsunami yang berasal dari sumber tsunami yang letaknya tidak jauh dan dampak desktruktif yang ditimbulkan terbatas hanya pada pantai dalam radius 100 km dari sumbernya.
c. Mikrotsunami
Tsunami yang memiliki amplitudo yang sangat kecil, sehingga untuk mengamatinya diperlukan alat dan tidak bisa dideteksi secara kasat mata.
d. Tsunami lintas samudera
Tsunami yang menimbulkan dampak yang sangat luas dan tidak hanya di daerah dekat sumber gempa tetapi juga lintas samudera.
e. Paleotsunami
Tsunami yang terjadi pada zaman prasejarah dan belum ada pencatatan pengamatannya. Penelitian tentang Paleotsunami didasarkan pada identifikasi, pemetaan dan bukti berupa endapan-endapan tsunami yang ditemukan di daerah-daerah pantai dan korelasinya dengan endapan-endapan tsunami yang ditemukan di daerah lain secara lokal, regional ataupu diseberang ceruk samudera.
f. Tsunami regional
Tsunami yang dapat menhancurkan suatu wilayah geografis tertentu, umumnya sekitar radius 1000 km dari sumbernya.
g. Teletsunami (tsunami jauh)
Tsunami yang berasal dari sumber yang letaknya jauh, biasanya lebih dari 1000 km. Tsunami ini berawal dari tsunami lokal yang menyebabkan kehancuran besar didekat sumbernya kemudian gelombang-gelombangnya menjalar melintasi seberang ceruk samudera dengan energi yang cukup kuat yang dapat menimbulkan kehancuran di pantai-pantai yang letaknya lebih jauh dari 1000 km dari sumbernya.
(sumber: http://repository.upi.edu/operator/upload/s_geo_0705562_chapter2.pdf).

5. Tsunami Indonesia dan Dunia
Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada lempeng bumi yang labil dan memiliki pantai terpanjang di dunia. Indonesia merupakan daerah tektonik aktif tempat berinteraksinya lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, lempeng Carolina/Pasifik, dan lempeng Laut Filipina. Lempeng bumi yang labil disisi barat Sumatra, di selatan Jawa dan berputar ke utara melalui Nusa Tenggara, Maluku dan diteruskan ke Sulawesi. Lempeng bumi yang labil ini mempunyai potensi besar terjadinya gempa bumi pada dasar laut dalam yang memungkinkan terjadinya tsunami. Potensi tersebut menjadi lebih besar lagi karena sebagian besar pusat gempa tektonik terletak di bawah dasar laut dalam yang posisinya relatif dekat dengan pantai terutama barat Sumatra dan pantai selatan Jawa, Nusa Tenggara, Maluku dan Sulawesi.
Sejak tahun 1965 tercatat tsunami telah beberapa kali melanda sejumlah daerah di indonesia. Selain tsunami Aceh dan Mentawai (2004) yang menelan korban sekitar 230rb jiwa, tsunami juga pernah melanda pulau Seram (Maluku) tahun 1965. Selanjutnya tsunami di Sulawesi berturut-turut di Tanambung (1967), tambu (1968) dan Majene (1969). Tsunami juga tercatat pernah terjadi di Sumba (1977), Larantuka (1982), Flores (1992), Banyuwangi (1994), Biak (1998), Taliabu, Maluku (1998) dan Banggai (2000). (Andika Hazrumi, 2010).

Selain di indonesia tsunami juga melanda daerah-daerah lainnya di dunia. Beberapa tsunami yang paling merusak yang pernah terjadi dan tercacat dalam sejarah antara lain :
a. 1 November 1755, setelah gempa bumi kolosal menghancurkan Lisbon, Portugal dan pegunungan di Eropa, orang menyelamatkan diri dengan menggunakan perahu namun tsunami akhirnya menyusul. Peristiwa mengerikan secara bersamaan tersebut menelan korban lebih dari 60 ribu orang.
b. 27 Agustus 1883, letusan gunung Krakatau memicu terjadinya tsunami yang menenggelamkan 36 ribu orang Indonesia yang berada di pulau Jawa bagian barat dan utara Sumatera. Kekuatan gelombang mendorong 600 ton blok terumbu karang menuju tepi pantai.
c. 15 Juni 1896, gelombang setinggi 30 meter, disebabkan oleh gempa bumi menyapu pantai timur Jepang. Sebanyak 27 ribu orang menjadi korban.
d. 1 April 1946, tsunami April Fool, dipicu sebuah gempa yang terjadi di Alaska, menelan 159 korban jiwa kebanyakan berada di Hawaii.
e. 9 Juli 1958, tsunami di Teluk Lituya Alaska disebabkan oleh tanah longsor yang awalnya dipicu oleh gempa bumi berskala 8,3 skala richter. Gelombang sangat tinggi, tetapi karena wilayah tersebut relatif terisolasi dan kondisi geologinya unik maka tsunami tidak menyebabkan banyak kerusakan. Tapi hanya menenggelamkan satu perahu dan membunuh dua orang pelaut.
f. 22 Mei 1960, salah satu gempa besar yang tercatat dan terjadi di Chile sebesar 8,6 skala richter. Gempa tersebut menyebabkan terjadinya tsunami yang menerjang pantai Chile dalam waktu kurang dari 15 menit. Gelombang setinggi 25 meter menelan 1500 korban jiwa di Chile dan Hawaii.
g. 27 Maret 1964, dikenal sebagai gempa bumi Good Friday Alaska, dengan kekuatan sekitar 8,4 skala richter menggulung dengan kecepatan 400 mil per jam. Tsunami di Valdez Inlet dengan ketinggian 67 meter, membunuh lebih dari 120 orang. Sepuluh orang yang menjadi korban di kota Crescent, di utara California, yang sempat menyaksikan gelombang setinggi 6,3 meter.
h. 23 Agustus 1976, sebuah tsunami di barat daya Filipina menelan 8000 korban jiwa.
i. 17 Juli 1998, sebuah gempa berkekuatan 7,1 skala richter menyebabkan tsunami di Papua Nugini yang menelan 2200 korban jiwa dengan sangat cepat.
j. 26 Desember 2004, gempa kolosal dengan kekuatan 9,1 dan 9,3 skala richter mengguncang Indonesia dan menelan sekitar 230 ribu korban jiwa, sebagian besar karena tsunami. Gempa tersebut dinamakan sebagai gempa Sumatera-Andaman dan tsunami yang terjadi kemudian dikenal sebagai tsunami lautan Hindia. Gelombang yang terjadi menimpa banyak belahan dunia lain hingga Nova Scotia dan Peru.

6. Akibat dan Cara Penanggulangan Tsunami
Gelombang tsunami merusak segala yang dilaluinya, bangunan luluh lantak rata dengan tanah. Ribuan korban jiwa melayang akibat adanya tsunami seperti yang terjadi di Aceh dan Jepang baru-baru ini. Tsunami yang terjadi juga merusak struktur tanah karena adanya pengikisan oleh air laut dengan energi yang besar. Ini mengakibatkan salinitas tanah meningkat sehingga memerlukan waktu lama untuk rehabilitasi sebelum dimanfaatkan khususnya bagi daerah pertanian.

Sedangkan beberapa cara penanggulangan korban tsunami antara lain:
a. Melaksanakan evakuasi secara intensif.
b. Melaksanakan pengelolaan pengungsi.
c. Melakukan terus pencarian orang hilang, dan pengumpulan jenazah.
d. Membuka dan hidupkan jalur logistik dan lakukan resuplay serta pendistribusian logistik yang diperlukan.
e. Membuka dan memulihkan jaringan komunikasi antar daerah atau kota.
f. Melakukan pembersihan kota yang hancur dan penuh puing dan lumpur.
g. Menggunakan dana pemerintah untuk penanggulangan bencana dan gunakan pula dengan tepat sumbangan dana baik dari dalam maupun luar negeri.
h. Menyambut dengan baik dan libatkan unsur civil society. (Eko Suhartono, 2012)


Referensi

Anonim. 2010. Tinjauan Teoritis Tsunami. Diakses tanggal 05 Oktober 2012, dari http://repository.upi.edu/operator/upload/s_geo_0705562_chapter2.pdf.
Hazrumi, Andika. 2010. Tsunami di Indonesia. Diakses tanggal 05 Oktober 2012, dari http://taganabanten-info.blogspot.com/2009/11/tsunami-di-indonesia.html.
Inatews.bmkg. 2010. Tsunami. Diaksess tanggal 05 Oktober 2012, dari http://inatews.bmkg.go.id/tentang_tsunami.php.
Malik, Yakub. 2006. Tsunami Pengayaan Geologi. Diakses tanggal 04 Oktober 2012, dari http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/195901011989011-YAKUB_MALIK/TSUNAMI-PENGAYAAN_GEOLOGI.pdf.
Suharsono, Eko. 2012. Penyebab dan Cara Penanggulangan Tsunami. Diakses tanggal 05 Oktober 2012, dari http://ekosuhartono.blogdetik.com/?p=295.









1 komentar:

  1. Thanks for info, jangan lupa kunjungi websie kami https://bit.ly/2Q6Ttm4

    BalasHapus