a.
Pengertian model pembelajaran realistik
Pembelajaran matematika realistik atau Realistic Mathematics Education (RME)
adalah sebuah pendekatan pembelajaran matematika yang dikembangkan Freudenthal
di Belanda.
Gravemeijer menjelaskan bahwa RME dapat digolongkan
sebagai aktivitas yang meliputi aktivitas pemecahan masalah, mencari masalah
dan mengorganisasi pokok persoalan. Matematika realistik yang dimaksudkan dalam
hal ini adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Masalah-masalah
realistik digunakan sebagai sumber munculnya konsep-konsep matematika atau
pengetahuan matematika formal.
b.
Langkah-langkah model pembelajaran
realistik adalah
1)
Memberikan masalah dalam
kehidupan sehari-hari.
2)
Mendorong siswa
menyelesaikan masalah tersebut, baik individu maupun kelompok.
3) Memberikan masalah yang
lain pada siswa, tetapi dalam konteks yang sama setelah diperoleh beberapa
langkah dalam menyelesaikan masalah tersebut.
4) Mempertimbangkan cara
dan langkah yang ditentukan dengan memeriksa dan meneliti, kemudian guru
membimbing siswa untuk melangkah lebih jauh ke arah proses matematika vertikal.
5)
Menugaskan siswa baik
individu maupun kelompok untuk menyelesaikan permasalahan lain baik terapan
maupun bukan terapan.
c.
Kelebihan dan kelemahan model
pembelajaran realistik
1)
Kelebihan model pembelajaran realistik
adalah
a)
Karena membangun sendiri
pengetahuannya, maka siswa tidak pernah lupa.
b) Suasana dalam proses
pembelajaran menyenangkan karena menggunakan realitas kehidupan, sehingga siswa
tidak cepat bosan untuk belajar matematika.
c)
Siswa merasa dihargai dan
semakin terbuka, karena sikap belajar siswa ada nilainya.
d)
Memupuk kerjasama dalam
kelompok.
e)
Melatih keberanian siswa
karena siswa harus menjelaskan jawabannya.
f)
Melatih siswa untuk terbiasa
berfikir dan mengemukakan pendapat.
g)
Mendidik budi pekerti.
2)
Kelemahan model pembelajaran
realistik adalah
a)
Karena sudah terbiasa diberi
informasi terlebih dahulu maka siswa masih kesulitan dalam menentukan sendiri
jawabannya.
b)
Membutuhkan waktu yang lama.
c) Siswa yang pandai kadang
tidak sabar menanti jawabannya terhadap teman yang belum selesai.
d)
Membutuhkan alat peraga yang
sesuai dengan situasi pembelajaran saat itu.
e)
Belum ada pedoman penilaian
sehingga guru merasa kesal dalam evaluasi/memberi nilai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar