Menurut Hamalik, bermain peran merupakan penerapan pengajaran berdasarkan pengalaman
karena siswa dapat bertindak dan mengekspresikan perasaan dan pendapat tanpa
kekhawatiran mendapat sanksi. Sedangkan menurut Kenneth, Role Playing sebagai suatu metode
mengajar merupakan tindakan yang dilakukan secara sadar dan diskusi tentang
peran dalam kelompok.
b.
Sintaks model pembelajaran Role Playing
Menurut Sharfel dan
Shaftel mengemukakan sembilan tahap bermain peran yang dapat
dijadikan pedoman dalam pembelajaran yaitu:
1)
Menghangatkan suasana dan memotivasi
peserta didik.
2)
Memilih partisipan/peran.
3)
Menyusun tahap-tahap peran.
4)
Menyiapkan pengamat.
5)
Pemeranan.
6)
Diskusi dan evaluasi.
7)
Pemeranan ulang.
8)
Diskusi dan evaluasi tahap kedua.
c.
Kelebihan dan kelemahan model
pembelajaran Role Playing.
Menurut Nani Role Playing mempunyai
kelebihan dan kelemahan, yaitu:
1)
Kelebihan model pembelajaran role
playing adalah
a)
Melatih diri siswa untuk memahami dan
mengingat isi bahan yang akan diperankan.
b)
Siswa akan berlatih untuk berinisiatif
dan kreatif.
c)
Bakat siswa dapat dipupuk sehingga
dimungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni drama di sekolah.
d)
Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan
dan dibina dengan sebaik-baiknya.
e) Siswa memperoleh kebiasaan untuk
menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesama.
f) Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang lebih baik agar
mudah dipahami orang lain.
2)
Kelemahan model pembelajaran Role Playing adalah
a)
Sebagian anak yang tidak ikut bermain
peran menjadi tidak aktif.
b)
Banyak memakan waktu.
c)
Memerlukan tempat yang cukup luas.
d) Sering kelas lain merasa terganggu oleh
suara para pemain dan tepuk tangan penonton /pengamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar