Taksonomi Bloom merujuk
pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Di Indonesia, taksonomi Bloom
merupakan acuan penilaian berkelanjutan. Taksonomi ini pertama kali disusun
oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956 dan David R. Krathwohl (1964). Dalam hal
ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan
setiap domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci
berdasarkan hirarkinya.
Tujuan pendidikan yang
dicanangkan oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956 dan David R. Krathwohl
(1964) memiliki tiga kemampuan (kompetensi) yaitu ranah kognitif, afektif dan
psikomotorik. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa
kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai
dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks.
Pada tahun 1994, salah
seorang murid Bloom, Lorin Anderson Krathwohl dan para ahli psikologi aliran
kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom agar sesuai dengan kemajuan zaman.
Hasil perbaikan tersebut baru dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama revisi
taksonomi Bloom. Revisi hanya dilakukan pada ranah kognitif. Revisi tersebut
meliputi:
· Perubahan
kata kunci dari kata benda menjadi kata kerja untuk setiap level taksonomi.
· Perubahan
hampir terjadi pada semua level hierarkhis, namun urutan level masih sama yaitu
dari urutan terendah hingga tertinggi. Perubahan mendasar terletak pada level 5
dan 6. Perubahan-perubahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Level
1, knowledge diubah menjadi remembering (mengingat).
b. Level
2, comprehension dipertegas menjadi understanding (memahami).
c. Level
3, application diubah menjadi applying (menerapkan).
d. Level
4, analysis menjadi analyzing (menganalisis).
e. Level
5, synthesis dinaikkan levelnya menjadi level 6 tetapi dengan perubahan
mendasar, yaitu creating (mencipta).
f. Level
6, evaluation turun posisisinya menjadi level 5, dengan sebutan evaluating
(menilai) (Utari, 2013).
Setidaknya ada dua
nilai positif dari taksonomi yang baru ini dalam kaitannya dengan asesmen.
Pertama, karena pengetahuan dipisah dengan proses kognitif, guru dapat segera
mengetahui jenis pengetahuan mana yang belum diukur. Pengetahuan prosedural dan
pengetahuan metakognitif merupakan dua macam pengetahuan yang dalam taksonomi
yang lama kurang mendapat perhatian. Dengan dimunculkannya pengetahuan
prosedural, guru sains akan lebih terdorong mengembangkan soal untuk mengukur
keterampilan proses siswa yang selama ini masih sering terabaikan.
Kedua, taksonomi yang
baru memungkinkan pembuatan soal yang bervariasi untuk setiap jenis proses
kognitif. Apabila dalam taksonomi yang lama, hanya dikenal jenjang C1, C2, C3,
dst., dalam taksonomi yang baru tiap jenjang menjadi 4 kali lipat sebab ada 4
macam pengetahuan. Seorang guru yang membuat soal jenjang C1, kini bisa
memvariasikan soalnya, menjadi C1-faktual, C1-konseptual, C1-prosedural,
C1-metakognitif, dsb.
1. Dimensi pengetahuan
Ada empat macam
pengetahuan, yaitu: pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan
prosedural dan pengetahuan metakognitif. Jenis-jenis pengetahuan ini
sesungguhnya menunjukkan penjenjangan dari yang sifatnya konkret (faktual)
hingga yang abstrak (metakognitif). Dalam taksonomi yang lama, pengetahuan metakognitif
belum dicantumkan sebagai jenis pengetahuan yang juga harus dipelajari siswa.
a.
Pengetahuan
faktual (factual knowledge): pengetahuan yang
berupa potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah atau unsur dasar yang
ada dalam suatu disiplin ilmu tertentu. Pengetahuan faktual pada umumnya
merupakan abstraksi tingkat rendah. Ada dua macam pengetahaun faktual, yaitu
pengetahuan tentang terminologi (knowledge
of terminology) dan pengetahuan tentang bagian detail dan unsur-unsur (knowledge of specific details and element).
· Pengetahuan tentang
terminologi (knowledge of terminology): mencakup
pengetahuan tentang label atau simbol tertentu baik yang bersifat verbal maupun
non verbal. Setiap disiplin ilmu biasanya mempunyai banyak sekali terminologi yang
khas untuk disiplin ilmu tersebut. Beberapa contoh pengetahuan tentang terminologi:
pengetahuan tentang alfabet, pengetahuan tentang istilah ilmiah, dan pengetahuan
tentang simbol dalam peta.
· Pengetahuan tentang
bagian detail dan unsur-unsur (knowledge of specific details and element):
mencakup
pengetahuan tentang kejadian, orang, waktu dan informasi lain yang sifatnya
sangat spesifik. Beberapa contoh pengetahuan tentang bagian detail dan
unsur-unsur, misalnya pengetahuan tentang nama tempat dan waktu kejadian,
pengetahuan tentang produk suatu negara dan pengetahuan tentang sumber
informasi. Karena fakta sangat banyak jumlahnya, pendidik perlu memilih dan
memilah fakta mana yang sangat penting dan fakta mana yang kurang penting.
b.
Pengetahuan konseptual: pengetahuan
yang menunjukkan saling keterkaitan antara unsur-unsur dasar dalam struktur
yang lebih besar dan semuanya berfungsi bersama-sama. Pengetahuan konseptual
mencakup skema, model pemikiran, dan teori baik yang implisit maupun eksplisit.
Ada tiga macam pengetahuan konseptual, yaitu pengetahuan tentang klasifikasi
dan kategori, pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi dan pengetahuan
tentang teori, model dan sruktur.
· Pengetahuan tentang
kelasifikasi dan kategori: mencakup pengetahuan
tentang kategori, kelas, bagian atau susunan yang berlaku dalam suatu bidang
ilmu tertentu. Pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori merupakan pengetahuan
yang sangat penting sebab pengetahaun ini juga menjadi dasar bagi siswa dalam
mengklasifikasikan informasi dan pengetahuan. Tanpa kemampuan melakukan klasifikasi
dan kategorisasi yang baik siswa akan kesulitan dalam belajar. Beberapa contoh pengetahuan
tentang klasifikasi dan kategori: pengetahuan tentang bagian-bagian kalimat, pengetahuan
tentang masa geologi dan pengetahuan tentang pengelompokan tumbuhan.
· Pengetahuan tentang
prinsip dan generalisasi: mencakup abstraksi
hasil observasi ke level yang lebih tinggi, yaitu prinsip atau generalisasi.
Prinsip dan generalisasi merupakan abstraksi dari sejumlah fakta, kejadian, dan
saling keterkaitan antara sejumlah fakta. Prinsip dan generalisasi biasanya
cenderung sulit untuk dipahami siswa apabila siswa belum sepenuhnya menguasai
fenomenafenomena yang merupakan bentuk yang “teramati” dari suatu prinsip atau generalisasi.
Beberapa contoh pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi: pengetahuan
tentang hukum Mendel, pengetahuan tentang seleksi alamiah dan pengetahuan
tentang prinsip-prinsip belajar.
· Pengetahuan tentang
teori, model dan struktur: mencakup pengetahuan
tentang prinsip dan generalisasi dan saling keterkaitan antara keduanya yang menghasilkan
kejelasan terhadap suatu fenomena yang kompleks. Pengetahuan tentang teori,
model dan struktur merupakan jenis pengetahuan yang sangat abstrak dan rumit.
Beberapa contoh pengetahuan tentang teori, model dan pengetahuan tentang teori
evolusi, pengetahuan tentang model DNA dan pengetahuan tentang model atom.
c.
Pengetahuan prosedural: pengetahuan tentang bagaimana
mengerjakan sesuatu, baik yang bersifat rutin maupun yang baru. Seringkali
pengetahuan prosedural berisi langkah-langkah atau tahapan yang harus diikuti
dalam mengerjakan suatu hal tertentu.
· Pengetahuan tentang
keterampilan khusus yang berhubungan dengan suatu bidang tertentu dan
pengetahuan tentang algoritme: mencakup pengetahuan tentang
keterampilan khusus yang diperlukan untuk bekerja dalam suatu bidang ilmu atau
tentang algoritme yang harus ditempuh untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
Beberapa contoh pengetahuan yang termasuk hal ini, misalnya: pengetahuan
tentang keterampilan menimbang, pengetahuan mengukur suhu air yang dididihkan
dalam beker gelas dan pengetahuan tentang memipet.
· Pengetahuan tentang
teknik dan metode yang berhubungan dengan suatu bidang tertentu: mencakup
pengetahuan yang pada umumnya merupakan hasil konsensus, perjanjian, atau
aturan yang berlaku dalam disiplin ilmu tertentu. Pengetahuan tentang teknik
dan metode lebih mencerminkan bagaimana ilmuwan dalam bidang tersebut berpikir
dan memecahkan masalah yang dihadapi. Beberapa contoh pengetahuan jenis ini
misalnya, pengetahuan tentang metode penelitian yang sesuai untuk suatu
permasalahan sosial dan pengetahuan tentang metode ilmiah.
· Pengetahuan tentang
kriteria untuk menentukan kapan suatu prosedur tepat untuk digunakan: mencakup
pengetahuan tentang kapan suatu teknik, strategi, atau metode harus digunakan.
Siswa dituntut bukan hanya tahu sejumlah teknik atau metode tetapi juga dapat
mempertimbangkan teknik atau metode tertentu yang sebaiknya digunakan dengan
mempertimbangkan situasi dan kondisi yang dihadapi saat itu. Beberapa contoh
pengetahuan jenis ini misalnya: pengetahuan tentang kriteria untuk menentukan
jenis-jenis tulisan, pengetahuan tentang kriteria pemilihan rumus yang sesuai
untuk memecahkan masalah, dan pengetahuan memilih metode statistika yang sesuai
untuk mengolah data.
d. Pengetahuan metakognitif: mencakup
pengetahuan tentang kognisi secara umum dan pengetahuan tentang diri sendiri.
Penelitian-penelitian tentang metakognitif menunjukkan bahwa seiring dengan
perkembangannya siswa menjadi semakin sadar akan pikirannya dan semakin banyak
tahu tentang kognisi, dan apabila siswa bisa mencapai hal ini maka mereka akan
lebih baik lagi dalam belajar.
· Pengetahuan strategik: mencakup
pengetahuan tentang strategi umum untuk belajar, berpikir dan memecahkan
masalah. Pengetahuan jenis ini dapat digunakan bukan hanya dalam suatu bidang
tertentu tetapi juga dalam bidang-bidang yang lain. Beberapa contoh pengetahuan
jenis ini misalnya: pengetahuan bahwa mengulang-ulang informasi merupakan salah
satu cara untuk mengingat dan pengetahuan tentang strategi perencanaan untuk
mencapai tujuan.
· Pengetahuan tentang tugas
kognitif, termasuk di dalamnya pengetahuan tentang konteks dan kondisi yang
sesuai: mencakup
pengetahuan tentang jenis operasi kognitif yang diperlukan untuk mengerjakan
tugas tertentu serta pemilihan strategi kognitif yang sesuai dalam situasi dan kondisi
tertentu. Beberapa contoh pengetahaun jenis ini misalnya: pengetahuan bahwa
buku pengetahuan lebih sulit dipahami dari pada buku populer dan pengetahuan
bahwa meringkas dbisa digunakan untuk meningkatkan pemahaman.
· Pengetahuan tentang diri
sendiri: mencakup pengetahuan tentang kelemahan dan kemampuan
diri sendiri dalam belajar. Salah satu syarat agar siswa dapat menjadi pembelajar
yang mandiri adalah kemampuannya untuk mengetahui dimana kelebihan dan
kekurangan serta bagaimana mengatasi kekurangan tersebut. Beberapa contoh
pengetahuan jenis ini misalnya: pengetahuan bahwa seseorang yang ahli dalam
suatu bidang belum tentu ahli dalam bidang lain, pengetahuan tentang tujuan
yang ingin dicapai dan pengetahuan etntang kemampuan yang dimiliki dalam mengerjakan
suatu tugas.
2.
Dimensi proses kognitif dalam
taksonomi yang baru
Jumlah dan jenis proses kognitif tetap sama seperti
dalam taksonomi yang lama, hanya kategori analisis dan evaluasi ditukar
urutannya dan kategori sintesis kini dinamai membuat (creating). Seperti
halnya taksonomi yang lama, taksonomi yang baru secara umum juga menunjukkan
penjenjangan, dari proses kognitif yang sederhana ke proses kognitif yang lebih
kompleks. Namun demikian penjenjangan pada taksonomi yang baru lebih fleksibel
sifatnya. Artinya, untuk dapat melakukan proses kognitif yang lebih tinggi
tidak mutlak disyaratkan penguasaan proses kognitif yang lebih rendah.
a.
Mengingat (remembering): menarik
kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang. Mengingat
merupakan proses kognitif yang paling rendah tingkatannya. Untuk mengkondisikan
agar “mengingat” bisa menjadi bagian belajar bermakna, tugas mengingat
hendaknya selalu dikaitkan dengan aspek pengetahuan yang lebih luas dan bukan
sebagai suatu yang lepas dan terisolasi. Kategori ini mencakup dua macam proses
kognitif: mengenali (recognizing) dan mengingat (recalling).
· Mengenali (recognizing):
mencakup
proses kognitif untuk menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori
jangka panjang yang identik atau sama dengan informasi yang baru. Bentuk tes
yang meminta siswa menentukan betul atau salah, menjodohkan dan pilihan
berganda merupakan tes yang sesuai untuk mengukur kemampuan mengenali. Istilah
lain untuk mengenali adalah mengidentifikasi (identifying).
· Mengingat (recalling):
menarik
kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang apabila ada
petunjuk (tanda) untuk melakukan hal tersebut. Tanda di sini seringkali berupa
pertanyaan. Istilah lain untuk mengingat adalah menarik (retrieving).
b.
Memahami (understanding): mengkonstruk
makna atau pengertian berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki, mengaitkan
informasi yang baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki, atau
mengintegrasikan pengetahuan yang baru ke dalam skema yang telah ada dalam
pemikiran siswa. Karena penyususn skema adalah konsep, maka pengetahuan
konseptual merupakan dasar pemahaman. Kategori memahami mencakup tujuh proses
kognitif: menafsirkan (interpreting), memberikan contoh (exemplifying),
mengklasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing),
menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing) dan
menjelaskan (explaining).
· Menafsirkan
(interpreting): mengubah dari satu bentuk informasi ke
bentuk informasi yang lainnya, misalnya dari dari kata-kata ke grafik atau
gambar, atau sebaliknya, dari kata-kata ke angka, atau sebaliknya, maupun dari
kata-kata ke kata-kata, misalnya meringkas atau membuat parafrase. Informasi
yang disajikan dalam tes haruslah “baru” sehingga dengan mengingat saja siswa
tidak akan bisa menjawab soal yang diberikan. Istilah lain untuk menafsirkan adalah
mengklarifikasi (clarifying), memparafrase (paraphrasing), menerjemahkan
(translating) dan menyajikan kembali (representing).
· Memberikan contoh
(exemplifying): memberikan contoh dari suatu konsep atau
prinsip yang bersifat umum. Memberikan contoh menuntut kemampuan mengidentifikasi
ciri khas suatu konsep dan selanjutnya menggunakan ciri tersebut untuk membuat
contoh. Istilah lain untuk memberikan contoh adalah memberikan ilustrasi (illustrating)
dan mencontohkan (instantiating).
· Mengklasifikasikan
(classifying): Mengenali bahwa sesuatu (benda atau fenomena)
masuk dalam kategori tertentu. Termasuk dalam kemampuan mengkelasifikasikan
adalah mengenali ciri-ciri yang dimiliki suatu benda atau fenomena. Istilah
lain untuk mengkelasifikasikan adalah mengkategorisasikan (categorising).
· Meringkas
(summarising): membuat suatu pernyataan yang mewakili
seluruh informasi atau membuat suatu abstrak dari sebuat tulisan. Meringkas
menuntut siswa untuk memilih inti dari suatu informasi dan meringkasnya.
Istilah lain untuk meringkas adalah membuat generalisasi (generalising)
dan mengabstraksi (abstracting).
· Menarik inferensi
(inferring): menemukan suatu pola dari sederetan
contoh atau fakta. Untuk dapat melakukan inferensi siswa harus terlebih dapat
menarik abstraksi suatu konsep/prinsip berdasarkan sejumlah contoh yang ada.
Istilah lain untuk menarik inferensi adalah mengekstrapolasi (extrapolating),
menginterpolasi (interpolating), memprediksi (predicting) dan
menarik kesimpulan (concluding).
· Membandingkan
(comparing): mendeteksi persamaan dan perbedaan yang dimiliki
dua objek, ide, ataupun situasi. Membandingkan mencakup juga menemukan kaitan
antara unsur-unsur satu objek atau keadaan dengan unsur yang dimiliki objek
atau keadaan lain. Istilah lain untuk membandingkan adalah mengkontraskan (contrasting),
mencocokkan (matching), dan memetakan (mapping).
· Menjelaskan
(explaining): mengkonstruk dan menggunakan model sebab
akibat dalam suatu system. Termasuk dalam menjelaskan adalah menggunakan model tersebut
untuk mengetahui apa yang terjadi apabila salah satu bagian sistem tersebut
diubah. Istilah lain untuk menjelaskan adalah mengkonstruksi model (constructing
a model).
c.
Mengaplikasikan (applying): mencakup
penggunaan suatu prosedur guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas.
Oleh karena itu mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan prosedural.
Namun tidak berarti bahwa kategori ini hanya sesuai untuk pengetahuan
prosedural saja. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: menjalankan (executing)
dan mengimplementasikan (implementing).
· Menjalankan (executing): menjalankan suatu
prosedur rutin yang telah dipelajari sebelumnya. Langkah-langkah yang
diperlukan sudah tertentu dan juga dalam urutan tertentu. Apabila
langkah-langkah tersebut benar, maka hasilnya sudah tertentu pula. Istilah lain
untuk menjalankan adalah melakukan (carrying out).
· Mengimplementasikan (implementing):
memilih
dan menggunakan prosedur yang sesuai untuk menyelesaikan tugas yang baru.
Karena diperlukan kemampuan memilih, siswa dituntut untuk memiliki pemahaman
tentang permasalahan yang akan dipecahkannya dan juga prosedur-prosedur yang
mungkin digunakannya. Apabila prosedur yang tersedia ternyata tidak tepat
benar, siswa dituntut untuk bisa memodifikasinya sesuai keadaan yang dihadapi.
d.
Menganalisis (analyzing): menguraikan suatu permasalahan atau
obyek ke unsur-unsurnya dan menentukan bagaimana saling keterkaitan antar
unsur-unsur tersebut dan struktur besarnya. Ada tiga macam proses kognitif yang
tercakup dalam menganalisis: membedakan (differentiating), mengorganisir
(organizing) dan menemukan pesan tersirat (attributting).
· Membedakan
(differentiating): membedakan bagian-bagian yang menyusun
suatu struktur berdasarkan relevansi, fungsi dan penting tidaknya. Oleh karena
itu membedakan (differentiating) berbeda dari membandingkan (comparing).
Membedakan menuntut adanya kemampuan untuk menentukan mana yang relevan/esensial
dari suatu perbedaan terkait dengan struktur yang lebih besar. Misalnya,
apabila seseorang diminta membedakan antara apel dan jeruk, faktor warna,
bentuk dan ukuran bukanlah ciri yang esensial. Namun apabila yang diminta
adalah membandingkan hal-hal tersebut bisa dijadikan pembeda. Istilah lain
untuk membedakan adalah memilih (selecting), membedakan (distinguishing)
dan memfokuskan (focusing).
· Mengorganisir
(organizing): mengidentifikasi unsur-unsur suatu
keadaan dan mengenali bagaimana unsur-unsur tersebut terkait satu sama lain
untuk membentuk suatu struktur yang padu.
· Menemukan pesan tersirat
(attributting): menemukan sudut pandang, bias, dan tujuan
dari suatu bentuk komunikasi.
e.
Mengevaluasi (evaluating): membuat suatu pertimbangan berdasarkan
kriteria dan standar yang ada. Ada dua macam proses kognitif yang tercakup
dalam kategori ini: memeriksa (checking) dan mengkritik (critiquing).
· Memeriksa (Checking): Menguji
konsistensi atau kekurangan suatu karya berdasarkan kriteria internal (kriteria
yang melekat dengan sifat produk tersebut).
· Mengritik
(Critiquing): menilai suatu karya baik kelebihan
maupun kekurangannya, berdasarkan kriteria eksternal. Contoh: menilai apakah rumusan
hipotesis sesuai atau tidak (sesuai atau tidaknya rumusan hipotesis dipengaruhi
oleh pengetahuan dan cara pandang penilai).
f.
Membuat (creating): menggabungkan beberapa unsur
menjadi suatu bentuk kesatuan. Ada tiga macam proses kognitif yang tergolong
dalam kategori ini, yaitu: membuat (generating),
merencanakan (planning), dan
memproduksi (producing).
· Membuat (generating):
menguraikan
suatu masalah sehingga dapat dirumuskan berbagai kemungkinan hipotesis yang
mengarah pada pemecahan masalah tersebut.
· Merencanakan (planning):
merancang
suatu metode atau strategi untuk memecahkan masalah.
· Memproduksi (producing):
membuat
suatu rancangan atau menjalankan suatu rencana untuk memecahkan masalah
(Widodo, 2006).
Daftar
contoh kata kerja operasional yang dapat dipakai untuk ranah Kognitif ( Sumber: Utari, 2013)
Mengingat
(remembering)
|
Memahami
(understanding)
|
Mengaplikasikan
(applying)
|
Menganalisis
(analyzing)
|
Mengevaluasi
(evaluating)
|
Membuat
(creating)
|
Mengutip
Menyebutkan
Menjelaskan
Menggambar
Membilang
Mengidentifikasi
Mendaftar
Menunjukkan
Memberi label
Memberi indeks
Memasangkan
Menamai
Manandai
Membaca
Menyadari
Menghafal
Meniru
Mencatat
Mengulang
Mereproduksi
Meninjau
Memilih
Menyatakan
Mempelajari
Mentabulasi
Memberi kode
Menelusuri
Menulis
|
Memperkirakan
Menjelaskan
Mengkategorikan
Mencirikan
Merinci
Mengasosiasikan
Membandingkan
Menghitung
Mengkontraskan
Mengubah
Mempertahankan
Menguraikan
Menjalin
Membedakan
Mendiskusikan
Menggali
Mencontohkan
Menerangkan
Mengemukakan
Mempolakan
Memperluas
Menyimpulkan
Meramalkan
Merangkum
Menjabarkan
|
Menugaskan
Mengurutkan
Menentukan
Menerapkan
Menyesuaikan
Mengkalkulasi
Memodifikasi
Mengklasifikasi
Menghitung
Membangun
Mengurutkan
Membiasakan
Mencegah
Menggambarkan
Menggunakan
Menilai
Melatih
Menggali
Mengemukakan
Mengadaptasi
Menyelidiki
Mengoperasikan
Mempersoalkan
Mengkonsepkan
Melaksanakan
Meramalkan
Memproduksi
Memproses
Mengaitkan
Menyusun
Mensimulasikan
Memecahkan
Melakukan
Mentabulasi
|
Menganalisis
Mengaudit
Memecahkan
Menegaskan
Mendeteksi
Mendiagnosis
Menyeleksi
Memerinci
Menominasikan
Mendiagramkan
Mengkorelasikan
Merasionalkan
Menguji
Mencerahkan
Menjelajah
Membagankan
Menyimpulkan
Menemukan
Menelaah
Memaksimalkan
Memerintahkan
Mengedit
Mengaitkan
Memilih
Mengukur
Melatih
Mentransfer
|
Membandingkan
Menyimpulkan
Menilai
Mengarahkan
Mengkritik
Menimbang
Memutuskan
Memisahkan
Memprediksi
Memperjelas
Menugaskan
Menafsirkan
Mempertahankan
Memerinci
Mengukur
Merangkum
Membuktikan
Memvalidasi
Mengetes
Mendukung
Memilih
Memproyeksikan
|
Mengabstraksi
Mengatur
Menganimasi
Mengumpulkan
Mengkategorikan
Mengkode
Mengkombinasikan
Menyusun
Mengarang
Membangun
Menanggulangi
Menghubungkan
Menciptakan
Mengkreasikan
Mengoreksi
Merancang
Merencanakan
Mendikte
Meningkatkan
Memperjelas
Memfasilitasi
Membentuk
Merumuskan
Menggeneralisasi
Menggabungkan
Memadukan
Membatas
Mereparasi
Menampilkan
Menyiapkan
Memproduksi
Merangkum
Merekonstruksi
Membuat
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar