Dalam studi yang
bersifat biografi, Edel (1984) menekankan “ setiap kehidupan mengambil bentuk
sendiri dan penulis biografi harus menemukan tulisan yang ideal dan unik dalam
menekspresikannya. Didalam strukturnya, sebuah biografi membutuhkan keluasan
yang melebihi uraian kronologis. Edel menekankan pada pendekatan kronologis
dari sebuah subjek yang memberi banyak ruang untuk pengembangan bentuk dan
struktur sebuah biografi.
Diberbagai tingkat
penulisannya, penulis membutuhkan ketajaman kadar pengamatan terhadap berbagai
manuskrip. Interpretasi biografis mengharuskan penulis membaca banyak bahan dan
mengorganisasikannya secara tepat. Umumnya berbagai fakta yang telah terkumpul
dituangkan kedalam tema-tema kronologis.
A. Keseluruhan Struktur Retorika (Overall Rhetorical Structure)
Pada
level struktural yang
lebih besar, penulis biografi perlu
melihat sejauh mana ada "intrusi penulis dalam manuskrip tersebut"
(Smith,1994, hal.292). Oleh karena itu, perluasan interpretasi penulis dalam
biografi berbeda dari satu penelitian dengan penelitian yang lainnya (Clifford,
1970). Dengan meminimalkan interpretasi penulis, biografi ditulis secara
objektif, sesuai dengan fakta yang dikumpulkan dengan tema kronologis. Meskipum
merupakan tulisan populer “artistik dan ilmiah”, biografi merupakan presentasi
kehidupan yang menarik. Pada narasi biografi, penulis menceritakan adegan dan
percakapan berdasarkan surat-surat dan dokumen. Terakhir, “fiksi” biografi
dibaca seperti novel sejarah dengan perhatian yang minimum terhadap penelitian
asli dan dokumen utama.
Masalah struktural
lainnya adalah perluasan suara untuk subjek dalam penelitian. Denzin (1989b)
menunjukkan tiga model interpretasi penulisan biografi. Peneliti bisa
menuliskannya dari perseptif subjek (subject’s
perspective), dimana segala uraian naratifnya mengetengahkan hasil editan
wawancara yang meminimalkan interpretasi. Peneliti bisa juga memakai bentuk
subjek yang menuliskan biografinya sendiri (subject-produced
biography), yang merupakan bentuk penulisan autobiografi dan bersifat
rekaman kehidupan tanpa keterlibatan penulis investigator atau melakukan
penyelidikan.
Terakhir, penulis bisa
pula memakai bentuk struktur pemaknaan dari setiap fase kehidupan subjek yang
hendak dilaporkannya dengan menggunakan metode progresif-regresif (progressive-regressive method). Penulis
menarasiakn bahasan biografisnya melalui kejadian penting (a key event) dari kehidupan subjek dan mengembangkan melaui teknik
forward dan backward dari peristiwa geografis.
B.
Keselekatan Struktur Retorika (Embedded Rhetorical Structure)
Denzin (1989b)
menggambarkan kejadian penting (a key
event) tersebut (epiphany),
dengan merujuk kepada momen-momen dan pengalaman interaksional penting dari
kehidupan seseorang. Ada empat jenis key
event ini yaitu kejadian penting yang menyentuh kehidupan seseorang; akumulasi
atau representasi dari berbagai kejadian, berbagai pengalaman yang berlangsung
lama; kejadian kecil tapi berkesan dimana merepresentasikan momen tertentu dalam
hidup seseorang; berbagai episode atau menghidupkan kembali berbagai kejadian
penting yang terkait dengan pengalaman tertentu. Hampir sama dengan Denzin,
Smith (1994) merekomendasikan kelekatan struktur lainnya yaitu menemukan
tema untuk memandu perkembangan kehidupan yang akan ditulis.
Tema ini muncul
dari pengetahuan awal atau hasil penelaahan, meskipun
peneliti sering mengalami kesulitan dalam membedakan tema utama dari tema yang
lebih kecil.
Perangkat kelekatan struktur
retorika lainnya mencakup penggunaan transisi, dimana penulis biografi lebih
unggul. Lomask (1986) merujuk hal tersebut untuk membangun narratif dalam
hubungan kronologis secara alami.
Penulis menyisipkannya dengan kata-kata atau frase dan pertanyaan. Selain
transisi, penulis biografi menggunakan semacam bayangan (foreshadowing), penggunaannya sering mengisyaratkan suatu cerita
yang akan terjadi atau peristiwa atau tema yang akan dikembangkan selanjutnya.
Contoh berikut ini
bagaimana penulis menggunakan struktur-struktur pemaknaan atau dimana narasi
biografisnya diatur melalui kejadian penting (key event) dari kehidupan subjek dan dikembangkan melalui teknik forward dan backward dari sebuah peristiwa.
Angrosino (1994), ini
adalah cerita tentang Vonnie Lee laki-laki berusia 29 tahun yang dijumpai
peneliti di Opportunity House, sebuah
tempat rehabilitasi orang yang mengalami masalah keterbelakangan mental dan
gangguan kejiwaan. Mayoritas orang yang tinggal di sini memiliki catatan
kriminal begitupun dengan Vonnie Lee. Ia mengalami masalah sejak anak-anak,
yakni menjadi anak yang tidak berayah dan ibu yang kecanduan alkohol dan
dilecehkan secara fisik oleh banyak laki-laki. Hidup Vonnie Lee banyak di
jalanan, di bawah bayang-bayang laki-laki tua “Lucian” yang melindungi Vonnie
Lee dari orang jalanan lainnya. Ketika Lucian meninggal, Vonnie Lee menjalani
hidup “masuk-keluar” di bawah binaan layanan kejiwaan Opportunity House. Sewaktu peneliti menemukan kisahnya, Vonnie Lee
berada dalam masa tansisi antara Opportunity
House dengan dunia komunitas supervised independent living. Kunci masalah
orang yang yang tengah mengalami masa persiapan “transisi” itu ialah
mengajarkannya tentang bagaimana menggunakan sistem transformasi publik.
Peneliti menemukan
Vonnie Lee mau membicarakan hidupnya tapi tanpa petunjuk yang jelas. Hampir bisa
dikatakan kisah Vonnie Lee tidak memberikan karakter apa-apa, kisahnya hanya
terfokus pada soal pendeskripsian rute bus. Dalam penjelasan Angrosino, “Ia
tersuruk-suruk pada hanya apa yang dilihat dan dirasakannya begitu mendalam
saat menemukan rute perjalanan bus”. Mengikuti petunjuk tersebut, peneliti
mengajukan diri untuk melakukan perjalanan dengan bus yang biasa dtumpangi
Vonnie Lee.
· Peneliti
mula-mula menggambarkan seseorang (Vonnie Lee).
· Peneliti
kemudian membicarakan hubungan seseorang sebagai pengantar studinya.
· Peneliti
memfokuskan satu kejadian penting (atau epiphany)
dari kehidupan seseorang.
· Peneliti
menginterpretasikan pemaknaan kejadian tersebut (melalui metafor, kelemahan dan
sebagainya).
· Meneliti
menghubungkan pemaknaan yang ditemukannya dengan kajian literatur.
· Peneliti
membahas pelajaran yang didapatnya berdasarkan rujukan studinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar