Senin, 29 April 2013

Laporan Naratif "Biografi"



Dalam studi yang bersifat biografi, Edel (1984) menekankan “ setiap kehidupan mengambil bentuk sendiri dan penulis biografi harus menemukan tulisan yang ideal dan unik dalam menekspresikannya. Didalam strukturnya, sebuah biografi membutuhkan keluasan yang melebihi uraian kronologis. Edel menekankan pada pendekatan kronologis dari sebuah subjek yang memberi banyak ruang untuk pengembangan bentuk dan struktur sebuah biografi.
Diberbagai tingkat penulisannya, penulis membutuhkan ketajaman kadar pengamatan terhadap berbagai manuskrip. Interpretasi biografis mengharuskan penulis membaca banyak bahan dan mengorganisasikannya secara tepat. Umumnya berbagai fakta yang telah terkumpul dituangkan kedalam tema-tema kronologis.
A.  Keseluruhan  Struktur Retorika (Overall Rhetorical Structure)
Pada level struktural yang lebih besar, penulis biografi perlu melihat sejauh mana ada "intrusi penulis dalam manuskrip tersebut" (Smith,1994, hal.292). Oleh karena itu, perluasan interpretasi penulis dalam biografi berbeda dari satu penelitian dengan penelitian yang lainnya (Clifford, 1970). Dengan meminimalkan interpretasi penulis, biografi ditulis secara objektif, sesuai dengan fakta yang dikumpulkan dengan tema kronologis. Meskipum merupakan tulisan populer “artistik dan ilmiah”, biografi merupakan presentasi kehidupan yang menarik. Pada narasi biografi, penulis menceritakan adegan dan percakapan berdasarkan surat-surat dan dokumen. Terakhir, “fiksi” biografi dibaca seperti novel sejarah dengan perhatian yang minimum terhadap penelitian asli dan dokumen utama.
Masalah struktural lainnya adalah perluasan suara untuk subjek dalam penelitian. Denzin (1989b) menunjukkan tiga model interpretasi penulisan biografi. Peneliti bisa menuliskannya dari perseptif subjek (subject’s perspective), dimana segala uraian naratifnya mengetengahkan hasil editan wawancara yang meminimalkan interpretasi. Peneliti bisa juga memakai bentuk subjek yang menuliskan biografinya sendiri (subject-produced biography), yang merupakan bentuk penulisan autobiografi dan bersifat rekaman kehidupan tanpa keterlibatan penulis investigator atau melakukan penyelidikan.
Terakhir, penulis bisa pula memakai bentuk struktur pemaknaan dari setiap fase kehidupan subjek yang hendak dilaporkannya dengan menggunakan metode progresif-regresif (progressive-regressive method). Penulis menarasiakn bahasan biografisnya melalui kejadian penting (a key event) dari kehidupan subjek dan mengembangkan melaui teknik forward dan backward dari peristiwa geografis.

B.   Keselekatan  Struktur Retorika (Embedded Rhetorical Structure)
Denzin (1989b) menggambarkan kejadian penting (a key event) tersebut (epiphany), dengan merujuk kepada momen-momen dan pengalaman interaksional penting dari kehidupan seseorang. Ada empat jenis key event ini yaitu kejadian penting yang menyentuh kehidupan seseorang; akumulasi atau representasi dari berbagai kejadian, berbagai pengalaman yang berlangsung lama; kejadian kecil tapi berkesan dimana merepresentasikan momen tertentu dalam hidup seseorang; berbagai episode atau menghidupkan kembali berbagai kejadian penting yang terkait dengan pengalaman tertentu. Hampir sama dengan Denzin, Smith (1994) merekomendasikan kelekatan struktur lainnya yaitu menemukan tema untuk memandu perkembangan kehidupan yang akan ditulis. Tema ini muncul dari pengetahuan awal atau hasil penelaahan, meskipun peneliti sering mengalami kesulitan dalam membedakan tema utama dari tema yang lebih kecil.
Perangkat kelekatan struktur retorika lainnya mencakup penggunaan transisi, dimana penulis biografi lebih unggul. Lomask (1986) merujuk hal tersebut untuk membangun narratif dalam hubungan kronologis secara alami.  Penulis menyisipkannya dengan kata-kata atau frase dan pertanyaan. Selain transisi, penulis biografi menggunakan semacam bayangan (foreshadowing), penggunaannya sering mengisyaratkan suatu cerita yang akan terjadi atau peristiwa atau tema yang akan dikembangkan selanjutnya.
Contoh berikut ini bagaimana penulis menggunakan struktur-struktur pemaknaan atau dimana narasi biografisnya diatur melalui kejadian penting (key event) dari kehidupan subjek dan dikembangkan melalui teknik forward dan backward dari sebuah peristiwa.
Angrosino (1994), ini adalah cerita tentang Vonnie Lee laki-laki berusia 29 tahun yang dijumpai peneliti di Opportunity House, sebuah tempat rehabilitasi orang yang mengalami masalah keterbelakangan mental dan gangguan kejiwaan. Mayoritas orang yang tinggal di sini memiliki catatan kriminal begitupun dengan Vonnie Lee. Ia mengalami masalah sejak anak-anak, yakni menjadi anak yang tidak berayah dan ibu yang kecanduan alkohol dan dilecehkan secara fisik oleh banyak laki-laki. Hidup Vonnie Lee banyak di jalanan, di bawah bayang-bayang laki-laki tua “Lucian” yang melindungi Vonnie Lee dari orang jalanan lainnya. Ketika Lucian meninggal, Vonnie Lee menjalani hidup “masuk-keluar” di bawah binaan layanan kejiwaan Opportunity House. Sewaktu peneliti menemukan kisahnya, Vonnie Lee berada dalam masa tansisi antara Opportunity House dengan dunia komunitas supervised independent living. Kunci masalah orang yang yang tengah mengalami masa persiapan “transisi” itu ialah mengajarkannya tentang bagaimana menggunakan sistem transformasi publik.
Peneliti menemukan Vonnie Lee mau membicarakan hidupnya tapi tanpa petunjuk yang jelas. Hampir bisa dikatakan kisah Vonnie Lee tidak memberikan karakter apa-apa, kisahnya hanya terfokus pada soal pendeskripsian rute bus. Dalam penjelasan Angrosino, “Ia tersuruk-suruk pada hanya apa yang dilihat dan dirasakannya begitu mendalam saat menemukan rute perjalanan bus”. Mengikuti petunjuk tersebut, peneliti mengajukan diri untuk melakukan perjalanan dengan bus yang biasa dtumpangi Vonnie Lee.
·      Peneliti mula-mula menggambarkan seseorang (Vonnie Lee).
·      Peneliti kemudian membicarakan hubungan seseorang sebagai pengantar studinya.
·      Peneliti memfokuskan satu kejadian penting (atau epiphany) dari kehidupan seseorang.
·      Peneliti menginterpretasikan pemaknaan kejadian tersebut (melalui metafor, kelemahan dan sebagainya).
·      Meneliti menghubungkan pemaknaan yang ditemukannya dengan kajian literatur.
·      Peneliti membahas pelajaran yang didapatnya berdasarkan rujukan studinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar